Sunday, September 23, 2007

RAMADHAN: BULAN MENSUCIKAN DIRI

Pada dasarnya, bulan Ramadhan mampu mengubah persepsi dan perilaku seorang muslim sedemikian rupa. Orang fasik menjadi malu menampakkan kefasikannya; orang munafik menjadi enggan mempertontonkan kemunafikannya; orang zalim pun mengurangi intensitas kezalimannya. Orang shaleh makin bersemangat menambah amal baiknya daripada bulan-bulan lainnya. Mesjid-mesjid, majelis taklim, forum-forum kajian keislaman, dan sejenisnya penuh sesak dipadati oleh kaum Muslim. Fenomena seperti ini tidak hanya kita temukan di lingkungan masyarakat secara umum, bahkan di kalangan para pejabat dan selebritis pun menampakkan hal yang sama. Media massa pun tidak ketinggalan, terutama televisi, menayangkan acara-acara yang bernuansa bulan Ramadhan, mengurangi tayangan-tayangan yang menjurus pada pornografi dan kekerasan. Kaum Muslim menyadari, bahwa bulan Ramadhan merupakan momentum yang tepat untuk mensucikan diri (tazkiyatu an-nafs), sehingga di bulan ini mampu tercipta atmosfir keimanan, suasana kebaikan, dan perasaan yang peka terhadap ajaran-ajaran Islam. Namun sayang, fenomena ini hanya ada di bulan Ramadhan saja. Bulan berikutnya, pasca Ramadhan, kembali bergelimang dengan dosa; tidak takut mendemonstrasikan kefasikan, kemunafikan, dan kezaliman; tidak takut kepada murka dan adzab Allah. Kalau begitu, apa pengaruh bulan Ramadhan bagi kita? Bukankah kalau bulan Ramadhan kita jadikan sebagai momentum untuk mensucikan diri, maka pasca Ramadhan mestinya kita bagaikan terlahir kembali, kembali suci? Pasca Ramadhan mestinya ketakwaan seorang Muslim akan semakin bertambah. Ketaqwaan yang lahir dari ketundukan kita pada perintah Allah dan penghindaran diri kita dari perkara yang diharamkan Allah SWT. Allah SWT berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Qs. al-Baqarah [2]: 183).

Kekeliruan Memahami Tazkiyatu an-Nafs
Ketika Ramadhan datang, banyak orang berlomba-lomba untuk beribadah dan melakukan perbuatan baik. Sayangnya, ketika Ramadhan telah usai, banyak orang kembali melakukan kemaksiyatan dan kedzaliman. Fenomena tersebut senantiasa berulang dan berulang terus setiap tahun. Akibatnya, Ramadhan sebagai bulan mensucikan diri (tazkiyatu an-nafs) hampir kehilangan maknanya. Sebab, bulan Ramadhan tidak berimplikasi pada peningkatan ketakwaan maupun ketundukkan terhadap syari’at Allah pada diri seorang Muslim dan masyarakat umum di bulan-bulan yang lain. Secara umum, tampaknya ada kekeliruan dalam memahami tazkiyatu an-nafs, dan kekeliruan ini telah berimplikasi pada anggapan-anggapan berikut ini:
Pertama, pensucian diri hanya pada bulan Ramadhan. Selama bulan Ramadhan kita sanggup menjalankan ketaatan kepada Allah sedemikian rupa, dan sanggup dengan sedemikian rupa pula meninggalkan segala kemaksiatan. Namun pasca Ramadhan kesanggupan tersebut seakan menguap, ketaatan kepada Allah pun surut dan berpaling menuju ketaatan kepada thagut (na’udzubillah).

Kedua, pensucian diri dilakukan dengan ketakwaan yang bersifat individual dan mengabaikan ketakwaan yang total. Aktivitas tazkiyatu an-nafs dianggap sebagai aktivitas jiwa yang menenangkan hati, Sehingga “wajar”lah upaya pensucian diri ini baru mengarah pada perbaikan diri sendiri saja, dengan miningkatkan ketakwaan yang bersifat individual, misalnya memperbanyak ibadah ritual, sholat tarawih, baca al-Qur’an, banyak berdzikir, melatih kesabaran, tidak berbohong, tidak menggunjingkan orang, dan yang semisalnya, yang semuanya terkategori dalam hubungan kita dengan Allah dan hubungan dengan diri kita sendiri. Sedangkan untuk hukum-hukum kemasyarakatan, seperti politik, ekonomi, pendidikan, dan lain-lain tetap diabaikan. Sehingga pensucian diri ini baru berimplikasi pada perbaikan individu (dan ini pun hanya di bulan Ramadhan saja) dan tidak berimplikasi pada terjadinya perubahan mendasar di masyarakat secara keseluruhan.

Makna Tazkiyatu an-Nafs
Tazkiyatu an-Nafs secara bahasa terdiri dari dua kata, yaitu Tazkiyah dan an-Nafs. Kata tazkiyah berasal dari pecahan kata: zakka–yazukku–tazkiyah, yang berarti membayar, mensucikan. An-Nafs, bentuk pluralnya al-anfus atau an-nufus, yang berarti jiwa, hati, dan diri seseorang. Menurut istilah, batasan nafsu selalu dikaitkan dengan ruh dan jasad. Sebab, keduanya merupakan unsur pembentuk manusia. Sedangkan Ibn Qayyim, setelah mengemukakan pandangan berbagai kalangan tentang nafsu, berkesimpulan bahwa nafsu merupakan sumber pengetahuan akal. Tazkiyatu an-Nafs sendiri secara istilah adalah mensucikan jiwa (diri) kita dengan Islam. Menurut Said Hawwa yang disyarah dari kitab Ihyâ’ ‘Ulûm ad-Dîn karya Imam al-Ghazali, tazkiyatu an-nafs adalah membersihkan jiwa dari kemusyrikan dan cabang-cabangnya, merealisasikan kesuciannya dengan tauhid dan cabang-cabangnya, dan menjadikan nama-nama Allah yang baik sebagai akhlaknya, di samping ubudiyah yang sempurna kepada Allah SWT dengan membebaskan diri dari pengakuan rububiyah.

Pangkal Kekeliruan dan Pelurusannya
Pengaruh Filsafat
Secara umum telah ada kekeliruan dalam memahami an-nafsu, sehingga berimplikasi besar pula pada kekeliruan upaya penanganan an-nafsu, misalnya pada upaya tazkiyatu an-nafs. Satu kesalahan besar yang dilakukan oleh filsafat Barat dan Yunani selama beabad-abad adalah uraian mereka bahwa manusia terdiri dari ruh dan jasmani. Menurut mereka ruh adalah bagian dari Tuhan. Manakala ruh itu dominan dalam diri seseorang, dia akan menjadi manusia yang baik karena mendekati sifat-sifat ketuhanan. Sebaliknya manakala yang dominan jasmaninya, manusia menjadi buruk sifatnya. Sehingga untuk menjadi baik maka aspek ruh harus ditingkatkan dan meminimalisir aspek jasmani, misalnya dengan melaparkan diri (puasa). Pemahaman filsafat tadi banyak mempengaruhi kaum Muslim, dan berpengaruh besar pada cara pandang mereka terhadap pemahaman Islam. Termasuk dalam memahami an-nafsu. Berangkat dari pemahaman filsafat bahwa manusia terdiri dari ruh yang membawa potensi baik, dan jasmani yang berpotensi buruk, menurut Ibn al-Arabi, an-nafsu berkaitan dengan jasmani, dia adalah kekuatan syahwat yang merupakan sumber sifat-sifat tercela. Sehingga kalau ingin menghilangkan sifat-sifat
tercela pada diri seorang manusia, maka an-nafsu ini harus dihilangkan pula, yaitu dengan mengeliminir sisi jasmani pada dirinya, agar aspek ruh menguat, dan salah satu caranya adalah dengan membuat lapar jasmani (berpuasa). Sehingga mereka menganggap bahwa bulan Ramadhan adalah ajang meningkatkan sisi ruh agar sisi baiknya menguat, yaitu dengan melemahkan pengaruh jasmani, dengan mengurangi makan dan minum, dan mengurangi hubungan seksual. Padahal ruh (bukan ruh sebagai sirul hayah) dalam pembahasan ini bukanlah bagian yang ada dalam diri manusia, tetapi merupakan sifat dari luar yang diinginkan manusia agar bisa mempengaruhi perbuatannya. Dan ini terjadi bukan hanya pada saat pengaruh jasmani pada diri manusia tersebut melemah, akan tetapi bisa terjadi kapan saja, dan bahkan harus diadakan setiap saat. Ruh ini hanya bisa terwujud manakala manusia menyetir perbuatannya dengan aturan dari Allah SWT, karena ruh adalah kesadaran hubungan manusia dengan Allah. Allah SWT berfirman:

“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya.” (Qs. al-A’râf [7]: 3).

An-Nafs sendiri bukanlah kekuatan syahwat yang merupakan sumber sifat-sifat tercela. Nafsu adalah fitrah manusia yang bersifat netral. Allah SWT berfirman:

“Demi jiwa (nafsu) serta penyempurnaan (ciptaan)-Nya. Allah mengilhamkan pada jiwa itu jalan kefasikan dan ketakwaan.” (Qs. asy-Syams [91]: 7-10).

Artinya nafsu itu sendiri pada dasarnya fitrah yang bisa baik dan buruk atau taat dan maksiat. Ia akan menjadi baik apabila dia berupaya menghadirkan ruh di dalamnya, artinya dia mengaitkan nafsu ini dengan kesadaran hubungannya dengan Allah, demikian pula sebaliknya. Oleh karena itu bagi orang yang memiliki ruh dalam arti kesadaran hubungannya dengan Allah, maka pada hakikatnya nafsunya bahkan seluruh perbuatannya, setiap saat, akan selalu berada dalam daerah hukum Allah SWT. Ketika berada di bulan Ramadhan, kita meningkatkan ketakwaan kita, maka pasca Ramadhan pun demikian, bahkan akan lebih meningkat lagi. Sebab, kita telah digembleng selama 1 bulan penuh, sehingga kita telah terlatih untuk senantiasa meningkatkan keimanan dan keterikatan terhadap hukum syara, dan meyakini bahwa Allah SWT akan memberikan pahala dan siksa atas seluruh perbuatan, baik besar maupun. Sehingga, setiap perbuatan baik yang terkait hubungan dengan Allah, hubungan dengan diri sendiri, dan hubungan dengan manusia lain akan selalu diikatkan dengan syari’at Allah dan RasulNya. Akibatnya, ia tidak hanya mencukupkan diri dengan beribadah dan beramal sebatas individual dan ritual saja, tetapi juga yang terkait dengan hubungan kemasyarakatan, seperti ekonomi, sosial, pendidikan, dan politik, akan dijalankan juga sesuai syari’at Islam, dan jika belum dapat terwujud maka akan berusaha keras mewujudkannya. Sebab, ia menyadari sepenuhnya bahwa ini adalah bagian dari tanggung jawab dirinya sebagai seorang muslim yang harus senantiasa menghadirkan ruh (kesadaran hubungan dengan Allah) pada seluruh aspek kehidupannya; yakni dengan cara menegakkan syari’at Allah. Semua itu senantiasa dilakukan, baik di bulan Ramadhan maupun pasca Ramadhan; bahkan sepanjang hidupnya.

Pengaruh Ide Sekularisme
Meskipun dalam konteks historis, kelahiran sekularisme merupakan bagian dari sejarah feodalisme dan dominasi gereja pada abad pertengahan di Eropa, namun dalam perkembangannya telah menyebar di seluruh belahan dunia, termasuk di dunia Islam. Awalnya sekularisme hanya berbicara tentang hubungan antara agama dan negara, namun dalam perkembangannya pula semangat sekularisme tumbuh dan berbiak ke segala lini kehidupan. Saat ini sekularisme di dunia Islam bukanlah menjadi sesuatu yang asing lagi. Perkembangan sekularisme sudah seperti gurita yang telah menyebar dan membelit kemana-mana. Hampir tidak ada sisi kehidupan umat ini yang terlepas dari cengkeramannya. Akibatnya umat sudah tidak menyadarinya lagi. Inti dari paham sekularisme adalah pemisahan agama dari kehidupan. Agama tidak boleh berperanan aktif dalam kehidupan masyarakat dan kenegaraan. Agama masih direduksi sedemikian rupa hingga tinggal di relung-relung individu, dan kisaran aktivitas individual dan ritual saja. Akibatnya, ketika kehidupan telah dikepung dengan krisis multidimensional, tatanan ekonomi kapitalistik, perilaku politik yang oportunistik, budaya hedonistik, sikap sosial egoistik dan individualistik, dan paradigma pendidikan yang materialistik, maka cara pandang terhadap solusi permasalahannya bukan diarahkan untuk menjadikan agama Islam sebagai way of life di seluruh aspek kehidupan, akan tetapi, kebanyakan orang hanya berusaha memperbaiki dirinya sendiri secara individual untuk lebih mendekatkan diri pada Ilahi. Semua kondisi buruk yang mengepungnya dianggap sebagai suatu “dinamika” kehidupan yang sudah tidak dapat ditawar lagi. Sekalipun ketika hal itu telah menjadikan dirinya sulit mendapatkan ketenangan dan ketentraman, menjadikan hatinya sangat kering dan gersang, namun dia merasa cukup dengan hanya mencari kedamaian hati untuk dirinya sendiri saja, tidak merasa perlu untuk memikirkan orang lain di luar dirinya. Lebih dari itu, ia tidak merasa perlu untuk memikirkan kondisi masyarakat yang ada, apa lagi untuk melakukan upaya perubahan secara utuh. Padahal, Allah telah memerintahkan kita untuk terikat kepada hukum syara’, bukan hanya untuk aktivitas individual dan ritual saja, akan tetapi juga untuk seluruh aspek kehidupan, termasuk hubungan antar manusia dalam masyarakat dan negara. Allah SWT berfirman:

“Hukumlah diantara mereka dengan apa saja yang Allah turunkan, dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu mereka (dengan meninggalkan) kebenaran yang telah datang kepadamu.” (Qs. al-Mâ’idah [5] :48).

Pemahaman yang Sempit Terhadap Dalil
Kekeliruan memahami tazkiyatu an-nafs kemungkinan juga disebabkan karena pemahaman yang sempit terhadap dalil-dalil syara' yang berhubungan dengan tazkiyatu an-nafs. Sesungguhnya, Allah SWT memerintahkan setiap Muslim untuk membersihkan qalbunya. Sebab isi qalbu akan dihisab oleh Allah. Abu Hurairah ra menuturkan, Rasulullah Saw bersabda:

“Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk tubuh kalian dan tidak pula rupa kalian, tetapi Allah melihat qalbu kalian.” [HR.Muslim].

Di dalam hadits lain juga dituturkan:

“Dalam diri manusia ada qalbu, bila qalbu itu baik, maka baiklah seluruh jasadnya, bila qalbu rusak maka rusaklah seluruh jasadnya.”

Dari nash di atas, jelas, bahwa seorang muslim diperintahkan untuk senantiasa membersihkan qalbunya. Sebab, baik tidaknya seseorang bergantung pada baik dan tidak qalbunya. Hanya saja, ada kesalahpahaman dalam memberikan makna terhadap qalbu ini. Qalbu sering diartikan sebagai hati atau jiwa, sehingga upaya membersihkan qalbu sering dipahami sebagai upaya membersihkan hati, dan arahannya sangat individual. Padahal, al-Qur’an sendiri menggunakan istilah qalbu dengan makna yang beranekaragam dan tidak keluar dari cakupan makna bahasa tersebut. Makna qalbu berdasarkan al-Qur’an, antara lain:

Pertama, makna qalbu berkaitan dengan akal, pemahaman, dan pemikiran. Allah SWT berfirman:

“Mereka mempunyai qalbu (qulub) tetapi tidak dipergunakan untuk memahami ayat-ayat Allah.” (Qs. al-A’râf [7]: 179).

Dalam ayat tersebut, qalbu bermakna akal (pemahaman) yang mesti digunakan untuk memahami ayat-ayat atau tanda-tanda kebesaran Allah.

Kedua, qalbu bermakna tempat perasaan. Misalnya: tempat kekhusyuan
(Qs. al-Hadîd [57]: 16); tempat perasaan terguncang (Qs. al-Anfâl [6]: 3). Diantara arti penting qalbu sebagai tempat perasaan: qalbu sebagai tempat iman dan takwa:

“Mereka itulah yang dituliskan di dalam qalbu mereka iman.” (Qs. al-Mujâdilah [58]: 22).

Jelaslah, bahwa makna qalbu mencakup akal pikiran dan perasaan. Oleh karena itu, upaya untuk membersihkan qalbu berarti menjaga agar akal pikiran dan perasaannya senantiasa sesuai dengan aturan Allah SWT dan bersih dari aturan thagut. Dan hal ini tidak cukup dengan hanya melalui dzikir dan ibadah ritual saja, namun haruslah diawali dengan keimanan yang shahih lewat proses berfikir yang jernih, disertai dengan ilmu dan penerapan hukum-hukum Allah secara menyeluruh (diri pribadi, politik, ekonomi, negara, dan sebagainya) sebagai cerminan ketakwaan seseorang. Dan hal ini senantiasa dilakukan sepanjang masa, baik di bulan Ramadhan maupun pasca Ramadhan. Sehingga jelas kelirulah anggapan bahwa pembersihan qalbu ataupun pensucian diri cukup dilakukan pada bulan Ramadhan saja. Terlebih lagi ketika ternyata anggapan tersebut hanya berlandaskan pada salah satu hadits, telah bersabda Rasulullah Saw:

“Siapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan karena keimanan dan mengharapkan keridhaan Allah, akan diampuni dosa-dosanya terdahulu.”

Padahal syari’at Allah bukan hanya puasa atau aktifitas individual dan ibadah ritual semata, tetapi ada juga syari’at kemasyarakatan dan kenegaraan, dan perintah untuk terikat pada Syari’atNya bukan hanya untuk di bulan Ramadhan saja, tetapi juga di bulan-bulan selainnya.

Metode Shahih Tazkiyatu an-Nafs
Dari pemaparan di atas jelaslah bahwa makna an-nafs itu sangat luas, tidak dibatasi pada hal yang bersifat individual semata. Atas dasar itu, upaya untuk tazkiyatu an-nafs pun tidak boleh dibatasi pada aktifitas individual atau ibadah ritual saja, dan terlebih lagi tidak dibatasi hanya pada saat bulan Ramadhan saja. Sebab, secara umum telah ada kekeliruan dalam memahami makna tazkiyatu an-nafs, dan kekeliruan ini telah berimplikasi pada kekurangpedulian terhadap kondisi masyarakat, karena kita terlalu sibuk memikirkan diri sendiri, dan hanya memikirkan upaya membersihkan atau memperbaiki diri pribadi, dan tidak merasa bertanggungjawab dengan kondisi masyarakat yang semakin jauh dari penerapan syari’at Islam. Dengan demikian sudah seharusnya kita memahami bagaimana metode shahih bagi tazkiyatu an-nafs itu sendiri.

Berdasarkan pada Aqliyah Islamiyyah
Pada penjelasan sebelumnya telah dijelaskan bahwa nafsu pada dasarnya fitrah yang bisa menjadi baik atau buruk. Karena itu, nafsu harus dibentuk dan dibimbing agar tetap menjadi baik dan benar, yaitu dengan selalu mengikatkannya dengan seluruh syari’at Allah dan RasulNya. Hal ini tidak bisa diraih kecuali dengan meningkatkan tsaqâfah Islamiyah. Setiap Muslim mutlak membimbing pemikiran-pemikirannya dengan tsaqâfah Islam, dengan suatu pembelajaran yang menjadikan pikirannya menyatu dengan perasaannya. Dengan begitu, selain akan membersihkan dirinya secara individu dengan meningkatkan ibadah ritual, dan menghiasi diri dengan akhlaq terpuji, lebih jauh lagi, di dalam dirinya akan terbentuk api yang membakar kezaliman, kemaksiatan, kefasikan, kekufuran, dan segala dosa; sekaligus menjadi cahaya yang menunjuki masyarakat kepada hidayah dan risalah agung ini (Islam) hingga Islam diterapkan bukan hanya pada diri sendiri melainkan di tengah-tengah masyarakat secara total.

Taubah yang Hakiki dan Ketakwaan yang Total
Keberadaan kaum Muslim di dalam sistem kufur sekarang ini telah membuat mereka sangat sulit melaksanakan syari’at Islam, bahkan untuk skala individu sekalipun. Banyak kemaksiatan di sekeliling kita. Seandainya benteng keimanan kita lemah, tidak mustahil kemaksiyatan itu akan menyebar masuk ke dalam rumah-rumah kita, bahkan pada diri kita (na’udzubillah). Oleh karena itu, ketika kemaksiyatan itu sulit untuk dihindari, maka kita harus segera bertaubat dengan taubat yang hakiki. Taubat mesti dilakukan dengan cara memperbanyak istighfar, memohon ampunan Allah akan kelemahan dan ketidakberdayaan kita, menyesali perbuatan masa lampau, dan bertekad serta
~85~
Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam
memohon dikuatkan tekad kita untuk tidak pernah mengulanginya lagi. Hanya saja, kita menyadari sepenuhnya, jika kita hanya mengandalkan pada benteng individu saja, ini sangatlah sulit. Oleh karena itu, kita membutuhkan institusi yang akan senantiasa menjaga masyarakat untuk tetap berada pada koridor syari’atNya. Untuk mewujudkan hal ini, kita pun akan berjuang keras demi tegaknya institusi yang akan menegakkan syari’at Islam di tengah-tengah masyarakat. Institusi itu adalah Khilafah Islamiyyah.

Kehidupan Ramadhan dan Pasca Ramadhan di Masa Rassulullah Saw dan Para Sahabat
Ramadhan sebagai bulan untuk mensucikan diri, dimana target yang kita harapkan adalah bertambahnya ketakwaan. Diharapkan ketakwaan tersebut akan tetap tercermin pula dalam kehidupan pasca Ramadhan. Tidakkah kita mau bercermin pada kehidupan para sahabat Rasulullah Saw sebagai generasi terbaik yang pernah dimiliki umat manusia? Kita bisa menyaksikan bagaimana atmosfir keimanan di tengah-tengah mereka pada bulan-bulan selain Ramadhan senantiasa terpelihara seperti halnya pada bulan Ramadhan. Ketaatan mereka pada Allah dan RasulNya pun bersifat kontinyu dan tidak berubah. Aktivitas sosial, pemerintahan, dan kenegaraan, politik luar negeri, dan peperangan selama bulan Ramadhan tidaklah surut, seperti halnya di bulan-bulan yang lain. Rasulullah dan para sahabatnya atau generasi kaum Muslim terdahulu tidak mengendurkan jihad fi sabîlillâh, apalagi beristirahat selama bulan Ramadhan untuk memfokuskan diri hanya dengan amal-amal ibadah di dalam mesjid belaka. Sungguh, mereka tidak seperti itu. Peristiwa-peristiwa sejarah, seperti Perang Badar Kubra, pembebasan kota Makkah (fathu Makkah), pertempuran di ‘Ain Jalut melawan tentara Romawi, dan lain-lain, semua itu terjadi pada bulan Ramadhan. Ini berarti, bahwa aktivitas kemasyarakatan dan kenegaraan pada masa Rasulullah Saw dan pada masa Kekhilafahan Islam berlangsung sebagaimana adanya, baik pada bulan Ramadhan maupun selain Ramadhan. Mereka konsisten untuk melaksanakan aktivitas kemasyarakat dan kenegaraan sesuai dengan hukum Allah, baik di bulan Ramadhan maupun di luar bulan Ramadhan. Suasana dan atmosfir keimanan ada di sepanjang tahun, bukan hanya pada bulan Ramadhan saja. Akibatnya, seakan-akan sepanjang tahun adalah Ramadhan. Semua ini bisa terwujud, karena, negara Khilafah telah menjadikan Islam sebagai asas pemerintahan dan kehidupan masyarakatnya. Tidak hanya itu saja, negara Khilafah juga menunjukkan peranan besarnya dalam menjaga ketakwaan masyarakat. Sistem hukum Islam menjadi pilar dasar seluruh interaksi kehidupan masyarakat dan para pemimpinnya. Sedangkan akidah Islam menaungi seluruh kehidupan umat.

Read More......

Friday, September 07, 2007

Janji Allah Bagi Orang yang Akan Menikah

Ketika seorang muslim baik pria atau wanita akan menikah, biasanya akan timbul perasaan yang bermacam-macam. Ada rasa gundah, resah, risau, bimbang, termasuk juga tidak sabar menunggu datangnya sang pendamping, dll. Bahkan ketika dalam proses taaruf sekalipun masih ada juga perasaan keraguan.
Berikut ini sekelumit apa yang bisa saya hadirkan kepada pembaca agar dapat meredam perasaan negatif dan semoga mendatangkan optimisme dalam mencari teman hidup. Semoga bermanfaat buat saya pribadi dan kaum muslimin semuanya. Saya memohon kepada Allah semoga usaha saya ini mendatangkan pahala yang tiada putus bagi saya.

Inilah kabar gembira berupa janji Allah bagi orang yang akan menikah. Bergembiralah wahai saudaraku…

1. “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)”. (An Nuur : 26)
Bila ingin mendapatkan jodoh yang baik, maka perbaikilah diri. Hiduplah sesuai ajaran Islam dan Sunnah Nabi-Nya. Jadilah laki-laki yang sholeh, jadilah wanita yang sholehah. Semoga Allah memberikan hanya yang baik buat kita. Amin.

2. “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (Pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (An Nuur: 32)
Sebagian para pemuda ada yang merasa bingung dan bimbang ketika akan menikah. Salah satu sebabnya adalah karena belum punya pekerjaan. Dan anehnya ketika para pemuda telah mempunyai pekerjaan pun tetap ada perasaan bimbang juga. Sebagian mereka tetap ragu dengan besaran rupiah yang mereka dapatkan dari gajinya. Dalam pikiran mereka terbesit, “apa cukup untuk berkeluarga dengan gaji sekian?”.

Ayat tersebut merupakan jawaban buat mereka yang ragu untuk melangkah ke jenjang pernikahan karena alasan ekonomi. Yang perlu ditekankan kepada para pemuda dalam masalah ini adalah kesanggupan untuk memberi nafkah, dan terus bekerja mencari nafkah memenuhi kebutuhan keluarga. Bukan besaran rupiah yang sekarang mereka dapatkan. Nantinya Allah akan menolong mereka yang menikah. Allah Maha Adil, bila tanggung jawab para pemuda bertambah – dengan kewajiban menafkahi istri-istri dan anak-anaknya – maka Allah akan memberikan rejeki yang lebih. Tidakkah kita lihat kenyataan di masyarakat, banyak mereka yang semula miskin tidak punya apa-apa ketika menikah, kemudian Allah memberinya rejeki yang berlimpah dan mencukupkan kebutuhannya?

3. “Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong mereka, yaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka dan seorang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya”. (HR. Ahmad 2: 251, Nasaiy, Tirmidzi, Ibnu Majah hadits no. 2518, dan Hakim 2: 160)[1]
Bagi siapa saja yang menikah dengan niat menjaga kesucian dirinya, maka berhak mendapatkan pertolongan dari Allah berdasarkan penegasan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ini. Dan pertolongan Allah itu pasti datang.

4. “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. (Ar Ruum : 21)

5. “Dan Tuhanmu berfirman : ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina’ ”. (Al Mu’min : 60)
Ini juga janji Allah ‘Azza wa Jalla, bila kita berdoa kepada Allah niscaya akan diperkenankan-Nya. Termasuk di dalamnya ketika kita berdoa memohon diberikan pendamping hidup yang agamanya baik, cantik, penurut, dst.

Dalam berdoa perhatikan adab dan sebab terkabulnya doa. Diantaranya adalah ikhlash, bersungguh-sungguh, merendahkan diri, menghadap kiblat, mengangkat kedua tangan, dll.[2]

Perhatikan juga waktu-waktu yang mustajab dalam berdoa. Diantaranya adalah berdoa pada waktu sepertiga malam yang terakhir dimana Allah ‘Azza wa Jalla turun ke langit dunia[3], pada waktu antara adzan dan iqamah, pada waktu turun hujan, dll.[4]

Perhatikan juga penghalang terkabulnya doa. Diantaranya adalah makan dan minum dari yang haram, juga makan, minum dan berpakaian dari usaha yang haram, melakukan apa yang diharamkan Allah, dll.[5]

Manfaat lain dari berdoa berarti kita meyakini keberadaan Allah, mengakui bahwa Allah itu tempat meminta, mengakui bahwa Allah Maha Kaya, mengakui bahwa Allah Maha Mendengar, dst.

Sebagian orang ketika jodohnya tidak kunjung datang maka mereka pergi ke dukun-dukun berharap agar jodohnya lancar. Sebagian orang ada juga yang menggunakan guna-guna. Cara-cara seperti ini jelas dilarang oleh Islam. Perhatikan hadits-hadits berikut yang merupakan peringatan keras dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Barang siapa yang mendatangi peramal / dukun, lalu ia menanyakan sesuatu kepadanya, maka tidak diterima shalatnya selama empat puluh malam”. (Hadits shahih riwayat Muslim (7/37) dan Ahmad).[6]

Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Maka janganlah kamu mendatangi dukun-dukun itu.” (Shahih riwayat Muslim juz 7 hal. 35).[7]

Telah bersabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya jampi-jampi (mantera) dan jimat-jimat dan guna-guna (pelet) itu adalah (hukumnya) syirik.” (Hadits shahih riwayat Abu Dawud (no. 3883), Ibnu Majah (no. 3530), Ahmad dan Hakim).[8]

6. ”Mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat”. (Al Baqarah : 153)
Mintalah tolong kepada Allah dengan sabar dan shalat. Tentunya agar datang pertolongan Allah, maka kita juga harus bersabar sesuai dengan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Juga harus shalat sesuai Sunnahnya dan terbebas dari bid’ah-bid’ah.

7. “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. (Alam Nasyrah : 5 – 6)
Ini juga janji Allah. Mungkin terasa bagi kita jodoh yang dinanti tidak kunjung datang. Segalanya terasa sulit. Tetapi kita harus tetap berbaik sangka kepada Allah dan yakinlah bahwa sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Allah sendiri yang menegaskan dua kali dalam Surat Alam Nasyrah.

8. “Hai orang-orang yang beriman jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia
akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. (Muhammad : 7)
Agar Allah Tabaraka wa Ta’ala menolong kita, maka kita tolong agama Allah. Baik dengan berinfak di jalan-Nya, membantu penyebaran dakwah Islam dengan penyebaran buletin atau buku-buku Islam, membantu penyelenggaraan pengajian, dll. Dengan itu semoga Allah menolong kita.

9. “Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa”. (Al Hajj : 40)

10. “Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”. (Al Baqarah : 214)


Itulah janji Allah. Dan Allah tidak akan menyalahi janjinya. Kalaupun Allah tidak / belum mengabulkan doa kita, tentu ada hikmah dan kasih sayang Allah yang lebih besar buat kita. Kita harus berbaik sangka kepada Allah. Inilah keyakinan yang harus ada pada setiap muslim.

Jadi, kenapa ragu dengan janji Allah?


[1] Lihat Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Konsep Perkawinan dalam Islam, Pustaka Istiqomah, Cet. II, 1995, hal. 12
[2] Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Adab & Sebab Terkabulnya Do’a, Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Cet. I, Des 2004, hal. 1 – 2
[3] Allah turun ke langit dunia setiap malam pada sepertiga malam terakhir. Allah lalu berfirman, “Siapa yang berdoa kepada-Ku niscaya Aku kabulkan! Siapa yang meminta kepada-Ku niscaya Aku beri! Siapa yang meminta ampun kepada-Ku tentu Aku ampuni.” Demikianlah keadaannya hingga fajar terbit. (HR. Bukhari 145, Muslim 758) (lihat Tahajjud Nabi, Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al Qahthani, Media Hidayah, Sept. 2003, hal. 27).
[4] Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Adab & Sebab Terkabulnya Do’a, Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Cet. I, Des 2004, hal. 8 – 14
[5] Idem, hal. 15 – 22
[6] Abdul Hakim bin Amir Abdat, Al – Masaa-il Jilid 3, Penerbit Darul Qalam, Jakarta, Cet. II, 2004 M, hal. 103
[7] Idem, hal. 105
[8] Idem, hal. 101

Read More......

Wednesday, September 05, 2007

MENEMUKAN MUTIARA IBADAH SHAUM

بسم الله الرحمن الرحيم


Alhamdulillah, dengan idzin Allah SWT kita telah berada di pertengahan Ramadhan tahun 1428H. Kita memohon kepada Allah SWT agar bisa menyempurnakan shaum tahun ini hingga sebelun penuh. Dan kita memohon semoga kita termasuk orang-orang yang dalam sabda Nabi saw.:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَاناً وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Siapa saja yang melaksanakan ibadah shaum Ramadhan dengan landasan keimanan dan kesungguhan niat mengerjakannya karena Allah, niscaya akan diampuni dosa-dosanya di masa lalu.

Selain itu kita juga menginginkan dapat menggapai segala keberkahan bulan Ramadhan dengan melaksanakan berbagai kewajiban dan amalan sunnah yang pahalanya dilipatgandakan 70 kali dibandingkan dengan pengerjaannya di bulan lain. Juga kita berharap dapat mengoptimalkan semua itu pada malam penuh berkah, lailatul qadar, malam yang lebih mulia nilainya daripada 1000 bulan.

Kita tentu tidak ingin kesempatan emas ini melayang. Juga kita tidak ingin berada di garis minimal, yakni tinggal melaksanakan puasa dan sholat tarawih saja. Apalagi berada di titik nol, yakni puasa dan tarawih pun sia-sia. Ya, kita tidak ingin diri kita termasuk dalam sinyalemen Rasulullah saw. seperti dalam sabdanya:
كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ اِلاَّ الْجُوْعُ وَ الْعَطَشُ

“Betapa banyak orang-orang yang berpuasa tidak mendapatkan balasan kecuali lapar dan haus”.

Na’udzu billahi min dzalik!

Tentu kita tidak ingin ditinggal bulan Ramadhan tahun ini dalam keadaan papa dan rugi sama sekali. Di sinilah kita perlu memahami hakikat ibadah shaum, agar kita faham dan sungguh-sungguh melaksanakan dengan penuh keimanan dan niat ikhlas lillahi ta’ala.

Hakikat Shaum sebagai bagian dari Ibadah

Islam mengajarkan kepada kita bahwa tiadalah tujuan Allah Sang Pencipta ini menciptakan kita selain agar kita beribadah hanya kepada-Nya. Dia SWT berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS. Ad Dzariyat 56).



Ibadah secara bahasa artinya taat. Dalam konteks hukum syariat Islam, ibadah adalah aktivitas hubungan manusia sebagai hamba (dalam bahasa Arab : abid, jamaknya ibaad) dengan Allah SWT sebagai dzat yang diibadahi (dalam bahasa Arab : ma’buud). Allah SWT sebagai pembuat syariat (dalam bahasa Arab : musyarri’) telah menurunkan hukum-hukum yang sangat rinci tentang ibadah. Kita dapat merujuk pada berbagai kitab fiqih yang membahas masalah-masalah ibadah seperti sholat, zakat, shaum, haji, dan lain-lain. Inilah yang disebut ibadah secara khusus.

Sedangkan secara umum, ibadah adalah taat kepada segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Artinya tatkala seorang muslim mencari nafkah demi ketaatannya melaksanakan kewajiban yang Allah fardhukan kepadanya menafkahi anak istrinya (lihat QS. Al Baqarah 233) hakikatnya dia sedang beribadah. Juga, tatkala seorang muslim berdagang dengan jujur, tidak menipu harga, serta tidak menipu mutu barang, dan ia berdagang dengan visi saling tukar barang/uang dengan saling ridla dan menjauhi memakan harta manusia dengan cara bathil (lihat QS. An Nisa 29 dan berbagai hadits tentang jual beli), pada hakikatnya dia sedang beribadah. Seorang pejabat muslim yang adil, tidak tergoda pada suap dan iming-iming demi keuntungan pihak-pihak tertentu yang menyeretnya kepada segala macam bentuk KKN sehingga melalaikan hak masyarakat umum, maka pada hakikatnya pejabat itu sedang beribadah kepada Allah SWT.

Shaum dalam konteks ibadah secara spesifik memiliki target tertentu, karakteristik tertentu, dan pengaruh tertentu bagi kehidupan seorang muslim.

Target yang mesti dicanangkan saat niat melaksanakan shaum dan hendaknya disadari sepanjang siang dalam melaksanakan ibadah shaum adalah : berharap dengan shaum atau puasa yang dijalankannnya itu dia memiliki kemampuan membentengi diri dari perbuatan yang diharamkan oleh Allah SWT, seperti berdusta, bersaksi palsu, berzina, berjudi, meminum minuman keras, mengkonsumsi narkoba, mengambil riba, korupsi, bersekongkol dengan pihak asing menguasai aset negara dan menyengsarakan rakyat, dan lain sebagainya. Allah SWT berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,(QS. Al Baqarah 183).



Sebagaimana ibadah-ibadah khusus yang lain, shaum memiliki karakteristik tertentu, yaitu: Pertama, ibadah shaum bersifat tauqifiyah alias diterima apa adanya dari Allah SWT melalui Al Quran dan As Sunnah. Kedua, adanya kewajiban shaum tanpa ada illat atau sebab disyariatkannya shaum. Tapi hanya sekedar perintah Allah (lihat QS. Al Baqarah 183,185). Ketiga, shaum dilaksanakan hanya untuk Allah SWT semata, tidak untuk yang lain (lihat QS. Al Kahfi 110). Dalam hadits Qudsi Nabi bersabda: Allah SWT berfirman: “Shaum itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya”(HR. Tirmidzi). Keempat, shaum diterima hanyalah manakala dikerjakan hanya dengan ikhlas lilahi ta’ala. Shaum yang dilaksanakan tidak dengan niat ikhlas lilahi ta’ala tidak dihitung ibadah. Kelima, shaum adalah ibadah yang langsung kepada Allah, tanpa perantara. Ketika seorang muslim berlapar-lapar dalam melaksanakan shaum, laparnya itu langsung dihubungkan dan diniatkan untuk Allah SWT. Dengan rasa lapar dan haus itulah dia sedang “online” dengan Allah SWT. Keenam, ibadah shaum itu mudah dilaksanakan. Allah tidak memerintahkan kepada hamba-Nya sesuatu yang tak mampu dilaksanakan. Sebagaimana hukum-hukum ibadah lainnya, dalam pelaksanaan shaum ada rukshoh untuk tidak melaksanakannya bagi orang-orang dengan kondisi-kondisi tertentu. Seorang yang sakit atau bepergian dibolehkan untuk berbuka (lihat QS. Al Baqarah 184).

Mutiara Ibadah Shaum

Ibadah shaum sebagaimana ibadah-ibadah lainnya, apabila dikerjakan dengan ikhlas dan benar, insyaallah akan memberikan bekas pada diri pelakunya. Seorang muslim yang terlatih dengan shaum akan memiliki sifat lebih sabar, lebih jujur, dan lebih menjaga kesucian dirinya (iffah).

Untuk memahami lebih dalam dari efektivitas ibadah shaum pada kepribadian seorang muslim, maka perlu kita telaah kembali karakter kelima shaum, yakni ibadah yang langsung kepada Allah, tanpa perantara. Ketika seorang muslim berlapar-lapar dalam melaksanakan shaum, laparnya itu langsung dihubungkan dan diniatkan untuk Allah SWT. Dengan rasa lapar dan haus itulah dia sedang “online” dengan Allah SWT.

Kesadaran hubungan langsung “online” dengan Allah SWT ini serta kesadaran bahwa dia adalah hamba Allah SWT yang wajib senantiasa taat kepada-Nya inilah yang akan membuat seorang muslim bisa mengendalikan dirinya.

Saat berpuasa seorang muslim melakukan “imsak”, yakni menahan diri dari makan, minum, berhubungan suami-istri, dan segala perkara yang membatalkannya. Makan, minum, berhubungan suami-istri di malam bulan Ramadhan diperbolehkan (lihat QS. Al Baqarah 187), juga di siang-malam bulan-bulan yang lain. Namun di saat shaum, seorang muslim menahan diri dari perkara itu hanya karena Allah. Dalam Hadits Qudsi riwayat Abu Harairah r.a. bahwa Nabi bersabda: Allah SWT berfirman:

فَاِنَّهُ لِيْ وَاَنَا اَجْزِيْ بِهِ، يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ اَجْلِيْ

“Sesungguhnya dia (puasa) itu untuk-Ku, dan Aku akan membalasnya. Dia (anak Adam) meninggalkan syahwat dan makanannya karena-Ku” (HR. Muslim).



Bilamana perkara yang asalnya halal saja bisa ditinggalkan oleh seorang muslim lantaran ketaatannya kepada Allah, apalagi perkara yang asalnya memang diharamkan oleh Allah SWT.

Shaum sebagai ibadah khusus yang bisa dijalankan bersamaan dengan aktivitas-aktivitas lainnya –tidak seperti sholat atau manasik haji yang memerlukan waktu dan tempat yang khusus serta konsentrasi khusus-- shaum pada hakikatnya justru membangkitkan dan memelihara kesadaran hubungan kita dengan Allah SWT. Saat hendak minum atau makan di siang hari bulan Ramadhan, kita sadar bahwa kita sedang shaum, bahwa Allah pasti mengawasi kita, dan bahwa Allah pasti mengetahui bahwa kita sendiri yang membatalkan shaum kita. Saat hendak melakukan suatu bentuk maksiat, kita sadar bahwa kita sedang shaum, bahwa Allah SWT pasti mengawasi kita, bahwa Allah pasti mengetahui bahwa kita sendiri yang membatalkan pahala puasa kita dengan pelanggaran kepada hukum Allah SWT itu. Shaum melatih kita untuk menyadari apa hakikat dan akibat suatu perbuatan yang akan kita lakukan. Kata pepatah: “Pikir dahulu pendapatan, sesal kemudian tiada berguna”.

Juga, shaum memberikan gambaran kepada kita betapa perintah dan larangan Allah SWT wajib dijunjung tinggi. Allah SWT menyatakan bahwa kalau amalan lain dilipatgandakan dari 10 pahala hingga 700 pahala, shaum itu memiliki nilai khusus, yakni untuk-Nya dan Dialah yang akan membalasnya. Sedangkan pelanggaran atas kewajiban shaum, yakni sengaja berbuka tanpa alasan syar’i di siang hari Ramadhan, dosanya besar sekali. Allah gambarkan tak mungkin ditebus sekalipun dengan melaksanakan shaum setiap hari hingga hari kiamat, kalaulah manusia itu mampu melakukannya.

Menjunjung agama Allah SWT yang sempurna (iqomatuddin) adalah pekerjaan seorang muslim selama hayat dikandung badan. Saum melatih kita untuk senantiasa menyadari hal itu dan dapat senantiasa merasakan firman Allah SWT:
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.(QS. Al Hadid 4).

Khatimah

Mutiara ibadah shaum yang kita peroleh adalah bahwa tiada ajaran dan hukum yang mampu mendorong seorang mengerjakan secara ikhlas dan penuh kesungguhan kecuali ajaran dan hukum Allah SWT. Hukum jahiliyah buatan manusia tak mungkin mampu menggerakkan hati manusia seperti ajaran dan hukum syariah Islam di bulan Ramadhan ini.

Semoga kita pun semakin terdorong untuk menegakkannya di bulan lain secara kaffah di zaman yang sudah begini rusak ini. Apalagi dalam suatu hadits Rasul dikatakan bahwa siapa saja yang menghidupkan sunnah beliau saw. pada saat kondisi umatnya rusak, akan diberi pahala 100 orang yang mati syahid. Jika kita bertekad mulainya di bulan Ramadhan Mubarak ini, sungguh keberuntungan yang besar! Allahu Akbar!

Read More......

Revitalisasi Generasi Muda Islam Ditengah Arus Kapitalisme Global

Petikan monumental yang keluar dari lisan mulia Muhammad SAW sosok belia, 14 abad yang lalu penuh semangat dan kesadaran tinggi bagi sebuah cita-cita yang mulia yakni tegaknya kehidupan Islam yang terpancang panji-panji Islam penuh kemegahan. Potret pemuda yang menjadikan loyalitas hidupnya semata untuk Islam dan umat Islam. Sosok pemuda seperti inilah yang sekarang sedang ditunggu oleh umat sebagai penoreh masa depan Islam sekaligus meruntuhkan kesombongan sekaligus kebobrokan rezim kapitalisme global sekarang ini. Lebih dari itu surga Allah merindukan kehadiran mereka. Meminjam istilahnya sheila on seven seberapa pantas generasi muda khususnya mahasiswa sekarang menyandang predikat sebagai generasi penerus masa depan ??

mencari ilmu. Setuju Sobat? But..yang terlanjur biarlah berlalu terpenting sekarang bagaimana kedepan lebih baik. Jangan bersedih tetap senyum kita simak tulisan ini dan terimalah salam hangat saya selamat datang mahasiswa baru ! (eit.....kenalannya nanti aja ya)

Karakter Pemuda
Tidak ada sejarah kehidupan umat ini tanpa pemuda. Sejarah mencatat pemuda memiliki peran penting dalam keikutsertaanya dalam membidani serta membangun sebuah arah peradaban didunia ini. Berbagai peristiwa besar didunia ditoreh oleh keringat dan darah pemuda. Logika ini muncul memang karena demikinalah karakter dasar pada diri pemuda. Coba lihat Revolusi Perancis yang menumbangkan kekuasaan monarki digerakkan pemuda. Lapangan Tiananmen Cina menjadi saksi bisu bagaimana keberanian bagaimana seorang pemuda berani menyongsong desingan perlu cita-cita demokratisasi yang dicita-citakan. Bahkan foto yang merekam keberanian seorang pemuda pro-demokrasi menyongsong iringan tank menjadi foto jurnalistik terbaik ketika itu. Para pengikut utama Stalin dan Lenin-actor utama komunis- diawal kemenangan komunisme di Rusia kebanyakan adalah para pemuda. Pasca reformasi secara sporadis bermunculan mahasiswa yang lagi gandrung dengan ide sosial demokrat, bahkan disinyalemen mulai meradang diberbagai ruang-ruang kamar pondok pesantren. Bagi arek Suraboyo pasti mengenal Bung Tomo hanya dengan pekikan Allahu Akbar berhasil memompa semangat ’45 arek Suraboyo memukul mundur sekutu saat itu hingga diabadikan sebagai Hari Pahlawan. Cosmas Batubara, Akbar Tanjung semasa mudanya sempat mengenyam sebagai “aktivis trotoar” alias demonstran dijamannya. Masih hangat ingatan sorotan dunia internasional ribuan mahasiswa dengan berbagai atributnya menduduki gedung MPR di Jakarta tahun 1998 menggulingkan rezim orde baru. Mahasiswa tahun-tahun terakhir layaknya selebritis mengisi berita televisi dengan aksi menentang setiap kebijakan pemerintah yang tidak bijak.
Nah setelah kita dihadapkan sederatan fenomena diatas nampak jelas mewakili geliat pemuda. Secara fitrah pemuda merupakan jenjang kehidupan yang optimal serat dengan potensi yang terkandung dalam dirinya. Pertama, kekuatan fisik. Ditinjau dari kondisi ini pemuda memiliki kekuatan fisik yang lebih dibanding generasi diatasnya. Kedua, Emosional. Menurut Mbak Ninik Handayani, S.Psi. pemuda lebih memiliki emosional yang luar biasa peka. Dalam pandangan psikologis setelah lepas fase pubertas (17-18 tahun) memasuki fase Andoselen(19-21 tahun) memiliki tingkat emosional meningkat. Kacamata psikoseksual usia-usia ini secara sexualitas mulai menunjukkan signifikansinya ditandai dengan meningkatnya hormon sexual baik laki-laki maupun wanita yang lebih dikenal dengan dengan fase genital sehingga terjadi perubahan fisik dan psikis. Akibatnya banyak sederetan korban pelanggaran sexual terjadi di dunia muda ketika mereka tidak mampu membendung birahinya dengan kekuatan iman yang kuat. Ketiga, Daya Intelektual. Kematangan intelektual lebih nampak pada usia muda apalagi bagi mereka yang sudah kenyang “makan sekolah tinggi” di kampus, setiap harinya berkutat pada ilmu-ilmu dan atmosfer ilmiyah mau tidak mau daya intelektual diasah. Keempat, Idealisme. Generasi muda adalah waktu yang tepat mengaktualisasikan idealisme diri. Senantiasa memperjuangkan serta berpegang teguh sesuatu yang dianggapnya benar, walau terkadang melanggar batas Islam.
Namun demikian sobat, bukan berarti seabrek potensi yang dimiliki pemuda musti otomatis menghantarkan pada keberhasilan atau prestasi hidup yang cemerlang di dunia ini. Buah simalakama memang bisa baik dan buruk tergantung pemuda yang mengendalikan potensi tersebut sesuai dengan fitrahnya sebagai manusia atau tidak. Dalam perjalanannya banyak ditemukan dampak negatif pada empunya.
Kang Hari Mukti (mantan rocker) yang sekarang jadi mubaligh terkenal dalam bukunya Generasi Muda Islam Dari Masalah Putaw Sampai Sekulerisme (1998), membagi 4 kelompok mahasiswa sebagai basis generasi muda sebagai berikut:
Kelompok pertama adalah mereka yang tidak puas dengan kondisi sekarang, lalu melakukan berbagai aktivitas perubahan. Mereka melihat bahwa sistem kehidupan yang berlaku sekarang hanya melahirkan penderitaan yang berkepanjangan. Akan tetapi arah perjuangan mereka tetap dalam format kapitalisme maupun sosialisme. Ide-ide demokrasi, HAM, pluralisme, humanisme menjadi inti dari halauan politik mereka. Fakta pertama ini banyak kita dapati seperti aktivis-aktivis sekarang ini. Tentunya hal ini sangat bertentangan dengan Islam.
Kelompok kedua adalah mereka yang cuek terhadap kondisi masyarakat. Sistem kehidupan kapitalistik telah mencetak pribadi individualistik seperti ini. Kebanyakan mereka hanya studi oriented.
Kelompok ketiga adalah kelompok yang dapat dikatakan terbius dan terjerat dalam bejatnya kehidupan. Mereka hidup hedonistik, permisivistik menjadikan musik, hiburan, narkoba, sex bebas adalah kehidupan mereka.
Kelompok keempat adalah kelompok mahasiswa yang peduli terhadap kondisi umat dan sadar akan kerusakan masyarakat karena akibat tidak diterapkannya aturan islam dalam kehidupan. Dengan berbekal pemahaman tsaqofah islam dan ideologi islam yang jernih selain studi mereka juga berjuang dengan berdakwah menyeru umat kembali bersama-sama mengembalikan kehidupan Islam. Diharapakan kita adalah menempati posisi keempat ini.

“Raport Merah” Generasi Muda
“Darah muda darahnya para remaja............” begitu Bung Rhoma Irama mengilustrasikan gejolak remaja. Subbhanul Yaum Rijaalul Ghad yang berarti pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan. Seperti apa gambaran bangsa ini 30 tahun kedepan tergantung pemudanya sekarang. Bila pemuda sekarang adalah generasi yang suka teler ber funky ria menjual diri maka jangan heran 30 tahun nanti ditemui pemimpin bangsa yang teler dan suka menjual aset-aset negara ke negara asing untuk kepentingan dirinya sendiri ditengah kelaparan rakyatya. Ichh…memalukan! Bukan hanya kasus peledakan bom di Legian Bali atau Hotel JW. Marriot yang memakan banyak korban saja yang telah mencoreng wajah bangsa ini. Namun hancurnya moral anak bangsa ini sebagian besar generasi belia memperparah sederatan penderitaan bangsa. Kalaulah sebuah bangunan hancur terkena ledakan bom kita masih dapat membangun dengan mudah dalam waktu relatif cepat. Namun hancurnya tatanan kehidupan generasi muda sangatlah tragis. Ditangan merekalah nasib bagsa ini. Merekalah aset bangsa ini yang berharga. Pekerjaan itu butuh waktu, tenaga, pikiran, kesadaran bersama. Itupun kalu berhasil. Bagaimana kalau gagal???
Hampir setiap hari menghiasi tajuk media massa dan elektronik betapa menghebohkannya tingkah polah mereka. Mulai dari tawuran, pemakai narkotika dan obat terlarang, free sex, aborsi, mode pakaian ketat, kriminal pembunuhan dan masih segudang masalah.
Dalam dunia ngesex bebas, dilaporkan Perkumpulan Keluarga Besar Indonesia (PKBI) bahwa setiap tahunnya ada 800.000 – 1.000.000 aborsi. Sekitar 89 % berasal dari pasangan menikah dan 11 % belum menika, dimana 51 %-nya dilakukan oleh wanita usia 20-29 tahun. Perkembangan kasus aborsi terus meningkat drastis tahun 2000 aborsi di Indonesia sudah mencapai angka 2,3 juta pertahun (Republika, Agustus 2000). Coba dihitung berarti ada 3561 remaja/hari aborsi, 148 remaja/jam aborsi, dan 2 remaja/menit aborsi. Tragis!! Tidak mau kalah dr. Boyke juga unjuk data, mengungkapkan bahwa 35 % dari mahasiswa kedokteran sebuah PTS setuju dengan sex pranikah. Sementara PKBI melaporkan juga 75 % remaja yang disurvei di Lampung pernah melakukan sex pranikah. Penjaja cinta banyak ditemukan dikota-kota besar adalah remaja. Remaja yang mengunjungi diskotik di Surabaya sebanyak 30,5 %-nya penjaja cinta, di Bandung 33 %, di Jakarta 33,3 % dan Yogyakarta 31,2 % (Jendela Profesional/002/99). Satu bulan sebelum hebohnya ledakan WTC, Bandung juga dihebohkan dengan dua mahasiswa dan mahasiswi yang terekam dalam sebuah VCD porno “itenas 15” sekitar Agustus 2001 (ich.....kacihan dech loe). Yayasan Pelita Ilmu tentang penelitian terhadap ABG didaerah Blok M, yang memperlihatkan 7,5 % diantara mereka adalah pecandu narkoba dan 12,3 % lainnya terlibat sex bebas (Media Indonesia, 30 November 1999). Survey yang dilakukan Lembaga Studi Kemanusian dan Humaniora (LSC PUSBIH) menunjukkan hasil bahwa 75 % mahasiswi Jogja sudah kehilangan virginitas (keperawanan) (lihat; www.detik.com). Menyusul kembali Bandung sebuah polling yang dilakukan Lembaga Swadaya Masyarakat Sahabat Anak Dan Remaja Indonesia (Sahara Indonesia) menyebutkan bahwa 44,8 % mahasiswa dan remaja Bandung telah melakukan hubungan seks sebelum menikah. Tragisnya, tempat yang digunakan untuk melakukan seks hampir sebagian besar berada di wilayah kos-kosan (51,5 %) bagi mahasiswa yang kuliah di PTN dan PTS terbesar di Bandung (www.eramuslim.com). Nah tidak mau ketinggalan sobatnya di Jogja dan Bandung di kota ngera ngalam meniru hal serupa akhirnya aktifitas dugem dan free sex mahasiswa mahasiswi semarak dikost-kostan dan kontrakan sudah bukan tontonan tabu lagi (Jawa Pos, Radar Malang,8-10 Oktober 2002).
Begitu halnya dengan tawuran bagaikan film action berseri. Satu episode selesai episode berikutnya dimulai. Tiap bulan dua nyawa melayang sia-sia. Angka ini berdasarkan jumlah korban tawuran antar pelajar di DKI sejak bulan Januari-Juli 1999, yang dikeluarkan pusat pengendalian gangguan sosial (Pusdalgangos) Pemda DKI. Masih menurut Pusdalgangos DKI sebanyak 13 orang tewas, 105 menderita luka-luka, dan 117 ditangkap petugas selama Januari-Juli 1999 (Media Indonesia, 4 Agustus 1999). Direkam oleh Direktorat Bimbingan Masyarakat Polda Metro Jaya dan sekitarnya menujukkan bahwa tawuran antar pelajar tahun 2000 ada 197 kasus dan tahun 2001 ada 123 kasus. Pelajar tewas tahun 2000 tercatat 28 orang dan tahun 2001 sebanyak 23 orang. Sedangkan pelajar yang luka berat pada tahun 2000 ada 200 orang dan tahun 2001 ada 32 orang (Kompas, Minggu 12/05/02).
Dalam dunia busana dan mode khususnya kaum hawa tidak mau ketinggalan dengan artis-artis dunia dalam bersulam karir. Baju ketat (maaf..dengan puser kelihatan), rok mini, mode rambut norak, parfum menyengat hidung menjadi assesoris wajib para funcker dikalangan remaja putri. Bagaimana tidak mengundang nafsu para lelaki hidung belang dengan dandanan seperti itu. Mereka sadar atau tidak telah menjadi alat pemuas nafsu lawan jenisnya (sst… sesama jenis juga lagi ich…amit-amit). Terbukti dari koresponden 410 dari jajaran pelajar SMU/SMK dan PT tentang berbagai alasan mengikuti trend mode 59,3 % karena mengikuti trend dan 40,7 % menjawab tidak. Menagapa mereka mengikuti trend? Sebanyak 92,2 % biar dianggap gaul, 6,9 % Asik aja lagi.., dan biar tampil beda (lihat; Jawa Pos, Deteksi, 2/12/2000). Dikampus-kampus menjadi pemandangan yang sudah biasa mahasiswi-mahasiswi dengan bangganya pakai baju adeknya menonjolkan sesuatu yang tidak pantas ditonjolkan tanpa rasa malu bahkan tersirat senyum bangga dengan tampil seronok seperti itu. Hiii..
Sederatan raport merah generasi muda kita membuat sedih berbagai praktisi hukum maupun pendidikan. Ada apa dibalik semua itu??

Pil Pahit Sekulerisme
Sederetan problem generasi muda bila ditinjau secara mengakar dalam kacamata ideologis tidak bisa dilepaskan sebagai konsekuensi logis bangsa menelan pil sekuler dalam mengobati krisis bangsa. Bukannya kesembuhan namun semakin memperparah krisis. Apa itu sekulerisme? Sekulerisme oleh Muhammad Qutb (1986) dalam bukunya Ancaman Sekulerisme, diartikan iqomatu al-hayati ‘ala ghairi asasin mina al-dini, atau membangun struktur kehidupan diatas landasan selain islam. Sementara Syeikh Taqiyyudin An-Nabhani (1953) dalam kitabnya Nidzamu al-islam.., menjelaskan sekulerisme sebagai fashlu al-din ani al-hayah atau memisahkan agama(Islam) dari kehidupan. Sekulerisme muncul saat masa kegelapan Eropa perdebatan antara gerejawan (pengauasa) dan cendikiawan membuat kesepakatan jalan tengah, agama (dalam pemahaman mereka Yahudi) hanya boleh mengatur dalam wiliyah private dalam gereja. Sedangkan urusan publik/kehidupan diatur berdasarkan akal pikiran mereka sendiri atau steril dari agama. Sekulkerisme ini meruapakan aqidah dari ideologi kapitalisme. Dari sinilah dibangun struktur kehidupan berdasarkan asas sekulerisme.
Sekulerisme inilah yang telah merasuk dan merusak pola fikir generasi muda secara tidak sengaja. Aqidah Islam sudah tidak lagi menjadi sebagai standar berfikir (qo’idah fikriyah) sekaligus pemimpin berfikir (qiyadah fikriyah) mereka. Agama -seperti halnya di fahami orat barat-hanya tinggal ibadah ritual belaka selebihnya se enak perutnya sendiri tanpa aturan agama(Islam).
Dalam perjalan sejarah yang panjang negara kapitalime –AS dan sekutunya- terus melakukan internasionalisasi penyebaran ide ini kesuluruh negeri kaum muslimin dengan berbagai sarana dan jargon globalisasinya. Dibalik jubah kecanggihan teknologi AS sebagai negara sekuler dunia menyebarkan virus berbahaya ini. Akhirnya gaya hidup sekulerisme betul-betul telah melekat pada diri kaum muslimin khususnya generasi muslim sembari secara suka rela mencabut aqidah islam dari dalam diri mereka. Hilanglah kebanggan mereka terhadap gaya hidup Islam dalam kehidupan sehari-hari. Generasi Islam telah menjadi generasi terbaratkan. Seakan-akan mereka seperti bebek yang tunduk pada induknya. Apa yang datang dari barat ditelan mentah-mentah tanpa reserve sedikitpun. Gaya hidup barat dianggap baik dan berjasa dalam merubah gaya hidup menjadi lebih modern.
John Naisbitt dan Patricia Aburdene dalam bukunya Megatrends 2000, berdasarkan gejala sekarang terjadinya globalisasi (kesamaan hidup) diabad-abad mendatang kita telah merasakannya dalam 3 F : food, fun, fashion (makanan, hiburan dan mode). Kenyataan inilah yang telah diusung barat ke negeri kaum muslimin untuk melemahkan generasi muda.
Food. Orang tidak lagi makan hanya dari daerahnya saja. Banyak makanan disajikan secara sama diseluruh dunia. Mc Donald dimakan penduduk Chicago maupun Ciputat. Coca Cola diminum orang Tokyo juga Tanggerang. Makanan seperti itu juga akan menentukan status sosial kita. Pemuda berani mengejar gengsi ama si doi untuk mengajak makan di Mc Donald walau harus rela ngutang.
Fun. Hiburan sudah menjadi bisnis internasional. Film dan sinetron yang banyak menampilkan adegan hot para selebitis sudah menjadi “lalapan” tontonan setiap hari dirumah kita. Orang bilang tontonan sudah menjadi tuntunan. Tuntunan jadi tontonan. Artis sudah menjadi guru-guru private setia menemani kita dirumah. Seluruh segmen umur terkena imbas hiburan TV mulai anak-anak hingga dewasa bahkan orang tua. Iklan-iklan lebih kita hafal fari pada surat-surat pendek Al-Qur’an. Adik kita lebih kenal sinchan ketimbang Umar bin Khathab. Wajar bila orang tua pada ribut lihat anaknya nakal kaya’ sinchan.
Fashion. Milan, Paris dan New York adalah sebagian kota-kota yang menentukan perkembangan busana dunia yang dijadikan trend setter mode. Mode terbaru di Paris hari ini diluncurkan satu dua hari berikutnya Mbak Mimin di Malang sudah dapat memakainya hanya dengan membeli di Pasar Besar. Mulai mode blacklesst dengan tipe baju berkrah baju V yang panjang sampai tipe mulees ( masuk angin kali karena pusernya kelihatan...he..he). Majalah mode menjadi koleksi wajib pemudi gaul yang gak mau ketinggalan info mode. Wal hasil mereka lebih percaya diri dandanan kayak gitu ketimbang berkerudung dan berjilbab.
Nah Sobat Muslim. Sudah saatnya kamu-kamu semua kudu berfikir ulang tentang format kehidupan sekuler yang hanya membuahkan sederatan problem hidup kamu yang amburadul. Tiba waktunya kamu bertindak mengembalikan eksistensi penciptaan kamu didunia. Sudahkah kamu berfikir. Dari mana kamu diciptakan? Mengapa kamu hidup didunia? Apakah untuk hura-hura atau untuk sebuah maksud mulia? Trus mau kemana setelah hidup ini berakhir? Pertanyaan besar inilah yang harus dijawab dengan tuntas untuk kemudian dijadikan sebagai landasan hidup. Landasan tersebut akan dibangun pemikiran cabang diatasnya sebagai solusi hidup didunia. Landasan itulah aqidah yang musti kamu raih dalam hidup ini.

Kiprah Pemuda Islam Dalam Lintasan Sejarah.
Peradaban Islam telah berjasa besar melahirkan generasi-generasi muda tangguh yang telah ditulis dengan tinta emas dalam sejarah Islam. Generasi ini merupakan peletak sekaligus pengusung peradaban Islam. Tiada generasi segemilang sahabat bahkan Allah SWT. ridlo terhadap mereka. Pemuda ashaab al-kahfi adalah tujuh pemuda beriman yang hidup ditengah komunitas sosial yang buruk yang menyimpang dari tuntunan Allah SWT. Pemuda kahfi bukan tipe pemuda pengekor budaya jahiliyah yang berkembang saat itu (lihat QS 18;14-15). Pemuda Ibrahim dengan teguh menentang keras kebiasaan kaumnya yang menyembah berhala-berhala sebagai sesembahan saat itu. Akhirnya pemuda Ibrahim berani menghancurkan berhala-berhala dengan menyisakan satu berhala yang paling besar (lihat QS. Al-Anbiya’ : 58,60,65 ; Asy-Syu’ara : 72, 77)
Tidak kalah hebatnya pemuda diawal dakwah Islam telah lahir melalui binaan Rasulullah SAW. Pengikut Rasulullah pertama kali diangkat sebagai rasul umur empat puluh tahun adalah sebagian besar dari pemuda bahkan ada yang anak-anak. Mereka semua dibina di Daarul Arqam dengan pembinaan murakazah (intensif). Diantaranya adalah Ali bin Abi Thali dan Zubair bin Awwam yang paling muda , keduanya ketika itu berusia 8 tahun. Thalhah bin Ubaidillah (110, Arqam bin Abi Arqam (12), Abdullah bin Mas’ud (14) kelak menjadi ahli tafsir terkemuka, Sa’ad bin abi Waqash (17) kelak menjadi panglima perang menundukkan Persia, Ja’far bin Abi Thalib (18), Zaid bin Haritsah (20), Ustman bib Affab (20) Mush;ab bin Umair (24) kelak menjadi duta pertama Rosul ke Yastrib/Madinah,Umar bin Khathab (26), Abu Ubaidah ibnul Jarah (27), Bilal bin Rabbah(30), Abu Salamah (30), Abu Bakar As-Siddiq (37) dan masih puluhan ribu pemuda yang terlibat dalam aktivitas dakwah menegakkan panji Islam. Seperti Usamah bin Zaid ketika masih dalam usia 18 tahun sudah diamanahi oleh Rasulullah sebagai komandan Pasukan Islam menyerbu kota Syam. Bahkan tidak menyangka dedengkot orang kafir Quraisy Abu Jahal harus rela tewas terkoyak pedang oleh dua orang pemuda masih belia Mu’adz bin Afra dan Muada bin ambru bin al Jamuh ( Musnad Imam Ahmad jilid I/hal. 139 dan Shahih Bukhari no. 3141 dan Shahih Muslim hadist no. 1752).
Merekalah generasi pilihan yang pernah dimiliki oleh Islam. Generasi yang hidupnya didedikasikan hanya untuk kemuliaan Islam. Mereka telah menentukan pilihan hidup dan pilihan itulah yang mengahantarkan keridloan Allah SWT pada mereka. Gelombang Siksaan mereka hadapi dengan sabar. Ketakutan pada api neraka lebih dari segala siksaan dunia yang menerpa. Ya Idealisme itulah yang telah menghantarkan hidupnya untuk Allah dan RasulNya. Allah berfirman :
“ Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, mereka berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh bermacam-macam kebaikan dan mereka itulah orang-orang yang beruntung” (QS. At Taubah :88).
Mereka biasa sedemikian hebatnya dengan teknologi yang bila dibandingkan dengan sekarang jauh lebih modern. Berarti kecanggihan teknologi bukan jaminan keluar dari krisis generasi islam sekarang ini. Bagaimana kita bisa mencetak kembali generasi unggulan sperti mereka? Bukankah kita ingin segera mengakhiri potret kelam generasi ditengah arus kapitalisme global ini?

Kampus Sebagai Basis Perjuangan
Sistem sekuler kapitalistik berimbas pada dunia pendidikan. Hasilnyapun bisa dilihat berupa pendidikan serba materailstik. Keberhasilan pendidikan hanya diukur dengan paramater status sarjana saja but minim akhlag dan jiwa ideologis. Pendidikan materialistik gagal mencetak generasi seutuhnya yang berpola fikir dan berpola jiwa Islami. Jangan heran bila kampus justru sebagai ajang pamer kebebasan berpikir, bertingkah laku, dan berpendapat. Bisa dilihat para koruptor ulung dinegara ini adalah jebolan kampus juga bahkan telah menempuh S6 (SD, SMP, SMA, S1, S2, S3 he he............)
Namun demikian disatu sisi kampus juga mengandung segudang potensi. Bila diibaratkan dengan hamparan ladang yang subur tergantung apa yang ditanam dan siapa yang menanam. Bila ditanamakan ide sosialisme dan kapitalisme di rawat oleh pendukung sosialis dan kapitalis maka panenlah kekuatan sosialis dan kapitalis dikampus. Begitu sebaliknya bila ditanam ide Islam dan didukung oleh pendukung aktivis Islam akan bertebaran opini dan kesadaran Islam di kampus. Begitu strateginya kampus tidak heran bila kampus dijadikan ajang pergolakan ideologi –islam, kapitalisme dan sosialisme-antar pendukung.
Berawal dari pandangan ini sekarang sudah berjamuran Lembaga-lembaga Dakwah Kampus sebagai wadah pengkaderan dan pembentukan kepribadian Islam bagi mahasiswa muslim. Dari sinilalah besar harapan kita kepada lembaga dakwah kampus sebagai sentra alternatif pembinaan umat adan berperan mengusung peradaban Islam sebagai pengganti rezim kapitalisme yang telah membuat kerusakan dan dosa-dosa di dunia ini.

Hanya Satu Kata : Pembinaan
Bagaimanapun juga apa yang dialami generasi muda muslim berupa kebobrokan moral adalah imbas dari kehidupan yang sekuler, tata kehidupan yang tidak diatur berdasarkan hukum Islam. Disamping terjadi kemerosotan yang begitu tajam terhadap pemikiran Islam khususnya pemahaman Islam. Imbasnya Hidup mereka tidak ada bedanya dengan binatang yang diatur hanya dengan nafsu. Tanggapan negatif terhadap Islam merupakan kesalahan yang biasa terjadi. Mahasiswa menganggap kalo mereka mempelajari Islam akan mengganggu studi. Apalagi yang biasa hidup dalam lingkungan permisivisme (serba boleh) dan hedonisme (hura-hura) belajar Islam hanya akan mengekang keinginannya. Batasan halal-haram menjadi mereka anggap sebagai pengebirian kreativitas. Bagi mahasiswi berkerudung dan berjilbab takut gak gaul dan cekak jodohnya.
Sebenarnya hal itu tidak perlu terjadi bila mereka mau duduk mempelajari Islam secara mendalam sebagai ideologi (aqidah yang melahirkan sistem). Bukan Islam dalam tataran ibadah ritual semata.
Ya kuncinya hanya satu pembinaan (tastqif) secara intensif terhadap tsaqofah islam.sebagai pengatur sekaligus pemecah problem hidup mereka. Peran Lembaga Dakwah Kampus maupun lembaga mahasiswa memiliki tanggung jawab besar terhadap pembinaan ini. Disamping pribadi-pribadi muslim senantiasa melakukan kulturisasi ide, pemikiran-pemikran, pendapat-pendapat islam ditengah kehidupan kampus.
Aktivitas itu harus mereka lakukan untuk meraih dua target . Pertama adalah membangun kesadaran Islam dalam diri mahasiswa muslim hingga melahirkan kader-kader yang militan dan berani menanggung berbagai resiko dakwah. Kedua adalah membentuk opini umum yang akan mempengaruhi pola fikir serta trend setter mahasiswa muslim sebagai generasi muda Islam sekaligus menggusur opini yang dilancarkan dari ideologi sesat yang lainnya. Revitalisasi Generasi Muda berawal dari pembinaan ini.
Gagasan diatas telah terbukti dalam sejarah Islam. Lahirnya generasi sahabat seperti dikemukakan diatas adalah buah ketelatenan dan kerja keras Rosulullah dalam pembinaan para Sahabat. Rasul betul-betul membina mereka dengan satu tujuan menyiapkan mereka sebagai pemimpin masa depan, yang akan mengusung peradaban Islam. Andaikan Rasululllah tidak melakukan pembinaan kita bisa bayangkan apa yang bakal terjadi pada dunia ini? Kehancuran!!

Akhirnya............
Mulai saatnya generasi muda membangun dan berbenah diri menapak tilasi perjalanan para generasi awal. Lahirnya generasi unggulan terdahulu berkat pembinaan yang intensif yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. atas mereka. Dari waktu kewaktu ditempa dengan pembinaan penuh kesabaran dengan Islam hingga terbentuk pola fikir dan pola jiwa melahirakan sosok pribadi Islam. Titik tolak inilah yang mampu menaghantarkan mereka sebagai generasi penakluk bangsa-bangsa besar saat itu hingga bersedia bertumpu dan bersimpuh ditelapak kaki kekuasaan Islam yang agung.
Ketika Aqidah Islam telah mengalir dalam darah dan ruang pemikiran generasi muda bergolaklah jiwa mereka untuk bergerak memikirkan urusan umat. Membebaskan umat dari cengkeraman kaum kapitalis durjana. Memerdekakan manusia dari penghambaan manusia dan dunia kepada Pencipta hidup dan mati Allah SWT semata.
Ridlo Allah menjadi makna kebahagiaan hakiki yang terus haus direngguk. Kecintaan melihat Allah di Hari Penghakiman (akhirat) menjadi cita-cita tertinggi. Gemerlap dunia menjadi sangat kecil tak berharga dimata. Ya dapat tersenyum manis dikala manusia menangis karena penyesalan didunia menjadi harapannya. Bidadari surga nan cantik gemulai menjadi idolanya.ehm............
Nah apa yang kau tunggu saudaraku??

“Wahai sekalian orang yang beriman, jika kalian menolong agama Allah, maka pasti Dia menolongmu dan mengukuhkan kedudukanmu (QS. Muhammad :7)

Read More......

Tuesday, September 04, 2007

13 Langkah Meraih Ramadhan Terindah

Ada 13 langkah pahala yang harus kita peroleh secara maksimal diramadhan bln
ramadhan.keseluruhannya adalah harapan akan keselamatan kita dunia dan di
akhirat. Semoga kita dikuatkan Allah SWT untuk meraih Ramadhan terindah di tahun
ini.

1. Perbanyak Shalat
Shalat di bulan Ramadhan menyimpan pahala sangat besar. Dibulan ini,sholat
sunnah bernilai shalat wajib, dan sholat wajib bernilai sama dengan minimal 70
kali sholat wajib bulan yang lain. "Rasulallah saw bersabda: " barangsiapa yang
sabar melakukan shalat 12 rakaat dalam satu hari satu malam, maka ia akan masuk
surga." (HR An.Nasai). "Rasulallah bersabda; " Barangsaiapa yang shalat dalam
satu hari satu malam dua belas rakaat, selain shalat wajib, dibangunkan untuknya
sebuah rumah di surga."(HR Muslim)

2. Tingkatkan Kualitas Puasa
Imam Ghazali dalam Ihya membagi bobot puasa menjadi 3.
1.puasa awam => yakni menahan makan, minum, syahwat kepada lawan jenis di siang
hari dibulan puasa.
2.puasa Khawash, yaitu puasa anggota badan dari yang haram, menahan mata, dari
yang haram, menahan tangan dari yang haram,menahan tangan dari yang tidak hak,
menahan langkah kaki dari jalan menuju yang haram, manahan telinga dari
mendengarkan yang haram termasuk ghibah.
3.ketiga adalah puasa Khawashul Khawash yaitu mengikat hati dengan kecintaan
pada Allah SWT, tidak memperhitungkan selain Allah, membenci prilaku maksiat
kepada-Nya.

3. Jangan Sia-siakan waktu malam, Lakukan Qiyamul Lail.
Sebaik-baik nikmat setelah islam adalah nikmat menyendiri bersama Allah SWT.
Berdiri dan berzikir di hadapan Allah jelas lebih baik dari tidur terlentang
diatas kasur. Qiyamul lail adalah madrasah yang agung dari madrasah pembinaan
diri. Tidak ada yang mampu melakukannya kecuali orang-orang yang ikhlas.

4. Basahi lidahmu dengan Dzikrullah.
Dzikrullah adalah indikator hidupnya mati. Dzikrullah adalah peristirahatan bagi
jiwa. Seorang Tabi'in mengatakan, "Sesungguhnya di dunia ini ada surga. Orang
yang belum memasuki surga dunia, tidak masuk ke dalam surga akhirat. Surga dunia
itu adalah dzikrullah."

5. Jangan ragu keluarkan Shadaqah.
Berinfaqlah. Dan jangan pernah takut miskin karena infaq, karena Allah pemilik
Arsy tidak pernah kehabisan memberi kepada orang yang berinfaq. Diantara cahaya
Shadqah: Allah SWT berfirman:"Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada
Allah,pinjaman yang baik (Menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan
melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipatan yang banyak. Dan Allah
menyempitkan dan melapangkan (rizki) dan kepada-Nyalah kamu
dikembalikan."(QS.Albaqarah:245) Rasulallah saw bersabda:"Saya dan orang yang
memelihara anak yatim di surga seperti ini."Rasul menunjukan dua jari, jari
tengah dan telunjuk.(HR Ahmad)
Dalam sebuat atsar disebutkan perkataan: Obatilah orang-orang sakit di antara
kalian dengan bersedekah"
Malaikat berdoa setiap hari kepada Allah: "Ya Allah berilah ganti kepada orang
yang berinfaq. Ya Allah sempitkan (rizki) orang yang kikir."

Keuntungan:
- Simpanan yang dipenuhi dengan kebaikan disis Allah SWT.
- Bertambahnya rizki di dunia. Dalam sebuah hadist Qudtsi, Allah SWT berfirman:
"Barangsiapa yang menginfaqkan hartanya di jalan Allah, akan Aku tulis untuknya
700 kali lipatan pahala."(HR Turmudzi)
- Dalam sebuah atsar disebutkan: "Berinfaqlah, maka Allah akan memberi infaq
kepadamu."

6. Jangan sia-siakan waktu, Bacalah Al Qur'an
Membaca Al Qur'an adalah ibadah paling utama di bulan
Ramadhan.Bersungguh-sungguhlah mengkhatamkan AlQur'an lebih dari satu kali di
bulan Ramadhan. Rasulallah bersabda: "Kalian tidak akan sampai pada puncak
keimanan sampai tidak ada sesuatu yang lebih kamu cintai daripada Allah SWT. Dan
barangsiapa yang mencintai Alqur'an maka Allah akan mencintainya."

7. Taubat, sekarang juga
Taubat adalah penyesalan atas perilaku kemaksiatan, dan jauh dari mengulangi
dosa serta tekad untuk tidak mengulangi dosa serta tekad untuk tidak
mengulanginya lagi. Semua kita memerlukan taubat setiap hari dari banyaknya
dosa-dosa yang kita lakukan. Dalam Haditsnya Rasul SAW juga mengatakan,
"Barangsiapa yang mendekatkan diri kepadaKu satu jengkal maka aku akan
mendekatinya Satu Hasta. dan barangsiapa yang mendekatiKu satu hasta, maka Aku
akan mendekatinya satu depa. Dan barangsiapa yang mendekatiKu dengan berjalan,
Aku akan mendekatinya dengan berlari."(HR Muslim)

8. Bertahanlah untuk i'tikaf di dalam Masjid
I'tikaf adalah sunnah yang selalu dilakukan Rasulallah SAW pada sepuluh hari
terakhir di bulan Ramadhan. Bahkan pada tahun terakhir ketika beliau wafat,
Rasulallah melakukan i'tikaf selama 20 hari. I'tikaf adalah tinggal di masjid
untuk beribadah, meninggalkan urusan dunia dan kesibukannya. Seorang yang
i'tikaf tidak keluar dari masjid kecuali karena darurat.

9. Ridhalah atas segala Ketetapan-Nya
Orang yang yang paling gembira di dunia adalah orang yang paling ridha dengan
ketetapan Allah SWT. Keridhaan adalah tingkatan paling tinggi dari sifat sabar.

10. Lapang Dada dan mudahlah memaafkan orang lain.
Termasuk indikator paling jelas dari sikap lapang dada dan mudah memaafkan
adalah kemampuan menahan marah, terutama saat kita mampu melampiaskan kemarahan
itu, sikap menahan marah merupakan sikap Nabi. Rasulallah saw bersabda:
"Barangsiapa yang mampu menahan marah padahal ia bisa melampiaskan kemarahannya.
Allah akan memanggilnya pada hari kiamat di depan kepala para mahluk dan
memberinya kebebasan untuk memilih bidadari mana yang ia ingini.

11. Sambunglah Hubungan Baik dengan Siapapun.
Seperti wasiat Rasul saw, " Keutamaan yang paling utama adalah engkau menyambung
hubungan yang baik dengan orang yang memutuskan hubungannya denganmu. Dan
menyalami orang yang mencacimu." (HR Ahmad)

12. Bahagiakan Orang Tua
Kita sangat memerlukan orang yang mau belajar kembali bagaimana caranya berbakti
kepada orang tua. Bagaimana caranya menyalami dan mencium tangan mereka?
Bagaimana caranya membantu mereka? kita telah banyak menyia-nyiakan hak kedua
orangtua. Dalam hadits riwayat muslim,Rasulallah saw bersabda,"Rugi dan
bangkrutlah orang bertemu dengan kedua-orangtuanya saat mereka sudah tua-salah
satu atau keduanya- tapi keadaan itu tidak bisa menyebabkannya masuk Surga."(HR
Muslim)

13. Serius meraih Lailatul Qadar
Malam yang paling mulia dalam satu tahun. Tidak ada keutamaan yang
menyerupainya, ibadah pada malam ini lebih baik dari 1000 bulan.Kapankah malam
Lailatul qadar? sejumlah hadits menyebutkan nalam tersebut jatuh pada salah satu
malam sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, terutama malam-malam ganjil.
Rasulallah saw bersabda:"Barangsiapa yang bangun di waktu malam lailatul qadar
dengan penuh keimanan dan pengharapan, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya
yang terdahulu."(HR Bukhari)

Keuntungan:
- Ampunan semua dosa yang telah lalu
- Kita bisa memperoleh apa yang kita inginkan berupa rizki dan keluarga yang
shalih.
- kita bisa terbebas dari neraka karena malam ini.

Wassalam,

Read More......

Thursday, July 05, 2007

Ayat Ayat Cinta


Photo: Sampul novel Ayat Ayat Cinta
Karya Habiburrahman El Shirazy

Novel Ayat Ayat Cinta yang ditulis oleh seorang novelis sekaligus sarjana lulusan Universitas Al Azhar, Habiburrahman El Shirazy, adalah sebuah novel roman Islami yang menyajikan nilai-nilai ajaran Islam dengan gaya artistik yang sangat berbeda dengan novel Islami yang selama ini telah banyak dihasilkan. Novel setebal 411 ini diterbitkan pertama kali pada bulan Desember 2004 , dan cetakan keduanya menyusul pada Januari 2005.

Sebagai sebuah novel Islami, nilai-nilai ke-Islaman dalam novel ini disajikan dengan bentuk yang sangat santun sehingga menimbulkan kesan natural tanpa harus berkesan ‘memaksakan’ kehadiran nilai-nilai ke-Islaman tersebut. Hal ini menyebabkan siapa pun yang membaca novel ini secara tidak sadar telah meresapi nilai-nilai Islami tersebut di dalam dirinya. Sehingga secara otomatis pula, wawasan pembaca tentang nilai-nilai ke-Islaman semakin bertambah.


Kelebihan lain yang dimiliki oleh sang penulis adalah kemampuannya untuk menggambarkan setiap setting atau latarbelakang kondisi lingkungan sekitar yang terjadi dalam novel tersebut. Cara penuturan gaya ‘orang pertama’ yang dipilihnya telah membuat suasana dalam setiap kejadian terasa ‘hidup’ dan berhasil membawa pembacanya, termasuk saya sendiri, seolah-olah mengalami dan melihat secara langsung setiap kejadian yang ada. Suasana kota Mesir yang menjadi setting utama dalam novel ini mampu ia gambarkan secara detail dan mendalam yang membuat saya merasa seolah-olah telah mengetahui Mesir dan bahkan merasa pernah tinggal dan menetap di sana.

Selain nilai-nilai ajaran Islam, dalam novel ini kita juga dapat menemukan berbagai isu yang terjadi di tengah-tengah masyarakat Mesir khususnya, dan masyarakat kita sendiri pada umumnya. Bagaimana ia menggambarkan karakter umum masyarakat Mesir yang berhati halus dan ramah, dengan mengambil referensi darai perkataan Rasulullah SAW kepada sahabatnya, “jika kelak membuka bumi Mesir hendaknya bersikap halus dan ramah”. Selain itu dalam novel ini juga tersirat banyak nilai-nilai budaya, hubungan sosial dalam masyarakat, isu politik, hukum, dan aturan-aturan dalam pergaulan sehari-hari.

Unsur lain yang tak kalah penting dalam novel ini adalah kisah asmara yang dialami oleh tokoh utamanya, Fahri bin Abdullah Shiddiq, dimana dalam kehidupan sosialnnya, ia telah dicintai oleh 4 orang wanita sekaligus. Setiap perasaan asmara yang ada dalam dirinya digambarkan oleh penulis dengan sangat baik. Sebagai sebuah novel asmara, tentunya nilai-nilai romantisme tidak dapat dielakkan. Namun tidak seperti novel-novel roman yang selama ini telah ada, dalam novel ini unsur-unsur romantis yang disajikan sama sekali tidak dengan menggunakan bahasa yang menjurus pada kesan ‘vulgar’. Hingga sampai pada saat Fahri merayakan bulan madunya dengan salah satu gadis yang akhirnya menjadi istrinya pun, penulis masih menyajikan hubungan suami-istri ini dengan menggunakan bahasa yang tidak ‘vulgar’ sama sekali. Namun walaupun begitu, novel ini tidak kehilangan kesan romantisme sebagia sebuah novel asmara.

Masih banyak hal lain yang mungkin bisa pembaca temukan dalam novel ini. Karena begitu banyaknya nilai-nilai bermanfaat yang dapat kita gali dari novel ini, baik dari segi nilai-nilai ajaran agama, khususnya Islam, hubungan sosial dan budaya, juga masalah percintaan dalam kehidupan kaula muda pada khususnya, novel ini dapat dikatakan tidak hanya sebagai sebuah novel cinta (seperti tergambar dalam judul), tapi juga dapat dikatakan sebagai sebuah novel religi dan juga novel budaya.

Ambil Novel Ayat-ayat Cinta

Read More......

Thursday, May 10, 2007

Am I A Terrorist?

=================
Am I A Terrorist?
=================
By: Dr. Shahid Athar

They call my people
blood thirsty terrorists
blowing up buildings and planes
with dynamite tied to their chests
killing civilians by the hundreds
-but am I a terrorist?

True, some of my people
of names similar to mine
do act violently in despair
when their human rights are stolen
when their suffering and plights are ignored
in the refugee camps of Sabra and Chatala.
- but am I a terrorist?

They are not living their faith
just acting on emotions and hate
full with the revenge for the oppressor
with little regard for innocent lives
they are just Muslim in name
-but am I a terrorist?

Islam, the religion of peace
teaches Muslims to respect life
"If anyone had killed one man
except in lieu of murder and mischief
it is as if he killed the whole mankind"
Same verse in Torah and Quran too
by the same God
-how could I be a terrorist?

Prophet Mohammad, Peace be upon him,
was a mercy to mankind
he cared for the poor, elderly and sick
even if not from his faith
he stood in respect for a funeral procession of a Jew
he let a cat take a nap on his robe
not to disturb her, he cut his robe
He told Muslim armies not to hurt women and kids
sick and old, cut trees or kill animals just for fun
I love him so much
-how could I be a terrorist?

But why do they call us terrorists?
Why not call the IRA, Red Army, Tamil Tigers
Militant Hindus, Russian killers, Israeli land-thieves

or Serbians terrorists?
Why not call the militia
blowing up government buildings
and killing innocent civilians a terrorist
No, the term is reserved for Muslims
- and I am a Muslim.

We are the victims of terrorism
in Palestine, Kashmir, Bosnia and Kosova
by individuals and states
with knives, guns, tanks and rape
-who is a terrorist?

I remember Serb soldiers came to my house
they killed my father and my big brother too
I miss them so much.
They raped my mom and my sister too.
I loved them so much.
Then they burned my house, my books and toys too
- and they call us terrorists.

I got scared, and fled into the woods
joined a caravan going to the border
migrating from oppression to a land of peace and freedom

I have walked two days and climbed a mountain
I am hungry and thirsty, tired and sick
My legs are weak and my feet are bleeding
unable to walk anymore
- do I look like a terrorist?

I am not a terrorist
I am a Muslim
seeking love, peace and justice
My name is Mehmet Poturvic
I am a 6 year old from Kosova
Ya Allah, please help me and my people.
"You alone I worship, from you alone I seek help

"O you believe answer the call of Allah(swt) and His Messenger(saw)
to that
which gives you Life."(24:8)

Remember there is NO Life or Dignity without Islam!!!

Read More......

Islam is peace

Islam is peace, Islam is ease.
Islam's not danger or disease.
Islam is love and prosperity.
Islam's not hatred or adversity.

Islam is salvation through repentance.
Islam has love for all in abundance.
Islam means no harm or affliction.
Islam implores you with affection.

Islam is neither maze nor craze.
Islam is giving Allah all praise.
Islam is acing through the race.
Islam will be on everyone's face.

Islam is worshipping only the Creator.
Islam's not mere numbers on a calculator.
Islam gives you power when you surrender.
Islam's not a terrorist or for a pretender.

Islam is patience and perseverance.
Islam eases your vengeance through tolerance.
Islam is life for all eternity.
Islam gives you respect, moreover dignity.

Islam is winning hearts through honesty.
Islam is giving openly in charity.
Islam makes you wholesome and trustworthy.
Islam is in wealth as well as in poverty.

Islam is your shield against all evil.
Islam is for your soul's retrieval.
Islam not fundamentalism or fanaticism.
Islam's not nationalism or racism.

Read More......

Wednesday, May 02, 2007

Undangan Konferensi Khilafah Internasional

Hizbut Tahrir Indonesia mengundang kaum muslim pada acara:
Konferensi Khilafah Internasional

Ahad, 12 Agustus 2007 M
28 Rajab 1428 H
Pukul 08:00 - 12:00 WIB
Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta

Insya Allah menghadirkan pembicara dari:
Eropa, Australia, Palestina, Sudan, Jepang dan Indonesia
Juga tokoh-tokoh nasional dari NU, Muhammadiyah, MUI, Darut Tauhid, Menpora, dan Ormas-ormas Islam.

Pembicara:

1. Dr. Imran Waheed (Hizbut Tahrir Eropa)
“Tanda-tanda Kehancuran Peradaban Barat”
2. Syeikh Ismail Al Wahwah (Hizbut Tahrir Australia)
“Dunia Membutuhkan Khilafah”
3. Syeikh Issam Ameera (Hizbut Tahrir Palestina)
“Tanda-tanda Tegaknya Khilafah”
4. Syeikh Usman Abu Khalil (Hizbut Tahrir Sudan)
“Tantangan Setelah Tegaknya Khilafah”
5. Prof. Dr. Hassan Ko Nakata (Cendekiawan Muslim Jepang)
“Peran Perjuangan HT Membangun Peradaban Islam ke Depan”
6. Hafidz Abdurrahman, MA (Ketua Umum DPP HTI)
“Perjuangan Hizbut Tahrir Indonesia Menuju Khilafah”

Orasi Tokoh:

* KH. Abdullah Gymnastiar
* Prof. Dr. H. M. Amin Rais
* KH. Ma’ruf Amin
* DR. H. Adyaksa Dault, SH, M.Si.
* KH. Drs. Hasyim Muzadi
* Prof. Dr. Din Syamsuddin
* KH. Habib Riziq Shihab
* KH. Zainuddin MZ

Kantor Hizbut Tahrir Indonesia:
Gedung Anakida Lt.7, Jl. Prof. Soepomo No.27 Tebet Jakarta Selatan
Telp: 021-8305848 Fax : 021-8312111
Email : info@hizbut- tahrir.or. id
Contact Person : Fanani (0815-8366436 / 021-70031924)

Read More......
 

Home | Blogging Tips | Blogspot HTML | Make Money | Payment | PTC Review

Bergerak Berkali-Kali coz Mati hanya sekali!! © Template Design by Herro | Publisher : Templatemu